Sekelompok orang membangun peradabannya sendiri. Dibentuklah suatu kota bernama Jakarta yg memiliki rupa tersendiri disetiap sudutnya.Dari dalam mobil, saya yg duduk di kursi sebelah kursi pengemudi, melihat peradaban yg dibentuk masyarakat kota ini. Bangunan2 membuatnya padat.Lelaki berkemeja putih turun dari kopaja, mengejar metromini sebelahnya. Ada pula mbak2 bersandar pada tiang billboard. Semua menyiratkan lelah."Tanpa hujan, walau panas, kota ini sudah terlalu becek dihujani air mata".. atau "Gang sempit didaerah kumuh sudah tidak muat lagi dilewati bonek".Kata orang desa di daerah Jawa yg saya temui, "Katanya di Jakarta enak, semua ada. Walaupun mahal, tapi gaji besar". Enak? Hati kecil saya berkata iya.Sesering apapun saya mendengar murkaan, sesering apapun saya mengucap serapah, saya memilih kota ini untuk ditinggali dengan menikmati risikonya.Titik yg mempertemukan ragam budaya. Satu Indonesia tahu apa itu Jakarta. Daratan yg mungkin sebentar lagi akan tenggelam menanggung beban.Saya lahir dari orang tua yg dilahirkan dan dibesarkan pula di kota ini. Sayapun tidak keberatan jika harus berbagi dengan para pendatang.Saya rela berbagi kemacetan, saya rela berbagi pandangan lampu kota, saya rela berbagi tempat untuk berdiri di transportasi umum.Hanya saja, saya terlalu menyukai kota ini.. Terlebih ketika saya menemukan kamu di kota ini (halah cyiiiin intronya panjang amat, hahaha!)