Tuesday, November 16, 2010
Tuesday, November 9, 2010
saya butuh terjaga..
Sampai akhirnya saya berada dsebuah rumah peribadatan. Mengadu, malu..
Tuhan, saya percaya bahwa Engkau hnya ada satu, namun Kau ciptakan manusia yg berbeda. Dan pertanyaan saya jg hanya satu, "Manakah yg tercipta lebih dahulu : emosi? Akal? Atau hati."
maaf Tuhan, jika saya bodoh krna mngingat apa yg prnah dilakukan salah satu teman sengaja melukai diri. Mencari cara bagaimana cara yg tepat untk menghukum diri sendiri. Menggunakan emosi demi sebuah pembuktian.
Enggan pulang, krna saya tdk yakin dimanakah sebuah kenyamanan. Berputar dan terus merasakan penatnya kota, kota yg sudah trlalu becek untk airmata dan keringat.
Egois msh meraja. Sederet pertanyaan timbul. Apakah, apakah dan kenapa. Kali ini saya menggunakan akal, untk melihat dr berbagai sudut pandang. Lantas muncul sebuah kesimpulan sempit yg berujung pd pernyataan saya tdk patut dinilai baik.
Keluh dan terus mengeluh sehingga lupa bahwa kuping manusia punya gendang telinga yg mungkin sdh terlalu pekik sehingga meledak. Entah saluran apa yg menyambungkannya kerongga mulut sehingga terlontar kata dngan daya hancur lebih dahsyat untk penerimanya.
Bagi beberapa diantara mereka, mungkin saya tdk sepenting itu, tdk satu dimensi, terlalu sensitif, terlalu menye-menye, tapi inilah kelemahan saya. Tolong dibantu. Krna bagi saya, ada manusia2 laen yg sebegitu pentingnya yg bs salah tafsir krna satu, dua, tiga kesalahan.
Terlalu kolot, tapi saya menganggap integritas itu penting. Respek serta kepercayaan dr mereka yg saya anggap penting itu adlh segala2nya. Dan sayangnya tdk ada asuransi yg melindungi harta yg sdh hilang tersebut..
Karena panas sehari, rusak hujan satu tahun..
Tdk ada tuntutan ingn dimengerti bagaimana cara kita berpikir dan menyimpulkan.
Sedalam apapun keinginan berempati, kita tdk bs mencapai dasarnya.
Terhenti pd sebuah waralaba, kopi yg tdk pernah saya sukai ternyata adalah yg saya butuhkan. Saya butuh terjaga.
Tuhan, saya percaya bahwa Engkau hnya ada satu, namun Kau ciptakan manusia yg berbeda. Dan pertanyaan saya jg hanya satu, "Manakah yg tercipta lebih dahulu : emosi? Akal? Atau hati."
maaf Tuhan, jika saya bodoh krna mngingat apa yg prnah dilakukan salah satu teman sengaja melukai diri. Mencari cara bagaimana cara yg tepat untk menghukum diri sendiri. Menggunakan emosi demi sebuah pembuktian.
Enggan pulang, krna saya tdk yakin dimanakah sebuah kenyamanan. Berputar dan terus merasakan penatnya kota, kota yg sudah trlalu becek untk airmata dan keringat.
Egois msh meraja. Sederet pertanyaan timbul. Apakah, apakah dan kenapa. Kali ini saya menggunakan akal, untk melihat dr berbagai sudut pandang. Lantas muncul sebuah kesimpulan sempit yg berujung pd pernyataan saya tdk patut dinilai baik.
Keluh dan terus mengeluh sehingga lupa bahwa kuping manusia punya gendang telinga yg mungkin sdh terlalu pekik sehingga meledak. Entah saluran apa yg menyambungkannya kerongga mulut sehingga terlontar kata dngan daya hancur lebih dahsyat untk penerimanya.
Bagi beberapa diantara mereka, mungkin saya tdk sepenting itu, tdk satu dimensi, terlalu sensitif, terlalu menye-menye, tapi inilah kelemahan saya. Tolong dibantu. Krna bagi saya, ada manusia2 laen yg sebegitu pentingnya yg bs salah tafsir krna satu, dua, tiga kesalahan.
Terlalu kolot, tapi saya menganggap integritas itu penting. Respek serta kepercayaan dr mereka yg saya anggap penting itu adlh segala2nya. Dan sayangnya tdk ada asuransi yg melindungi harta yg sdh hilang tersebut..
Karena panas sehari, rusak hujan satu tahun..
Tdk ada tuntutan ingn dimengerti bagaimana cara kita berpikir dan menyimpulkan.
Sedalam apapun keinginan berempati, kita tdk bs mencapai dasarnya.
Terhenti pd sebuah waralaba, kopi yg tdk pernah saya sukai ternyata adalah yg saya butuhkan. Saya butuh terjaga.
kemana ya ?
Terkadang hidup seringnya gak sesuai dengan apa kita harapkan. Flat dan gak indah sama sekali. Jenuh dengan rutinitas yang itu-itu saja. Dunia berasa seperti perumahan tipe 4L (lu lagi lu lagi). Pergi sebelum matahari nampak karena malu-malu, dan pulang setelah matahari udah diusir dari langit karena malu-maluin. Terbit gelap habis pun gelap.
Terkadang saya ingin keluar dari aktivitas ini, tidak ingin didikte dengan persoalan yang sama, kabur dari kebiasaan yang cukup memualkan, dan melepas apa yang sudah dimiliki. Namun, terlalu sayang untuk merelakan apa yang sudah dimiliki, takut dengan masa depan yang tidak bisa diprediksi, enggan meminta petuah mama lauren karena gengsi *lagian juga dia udah meninggal*. Ya, saya pengecut yang merasa jenuh. Katakan saja begitu.
Kegiatan yang sering kulakukan beberapa hari ini adalah melihat kalender, menghapal di luar kepala tentang tanggal-tanggal mana saja yang diwarnai merah. Kemudian mulai merencanakan banyak hal beserta alternatifnya untuk dilalui pekan itu. Tapi taruhan, rencana itu tidak akan terwujud.
Ingin rasanya pergi dari perasaan sepi ini. Saya memiliki banyak hal tapi seakan-akan tidak tahu mau difungsikan untuk apa. Berharap untuk satu hal yang itu-itu saja, yang tidak mungkin, yang seharusnya sudah kubuang. Menjadikan manusia yang tidak tahu bagaimana caranya mensyukuri nikmat, kerjaannya malah me-sukurin hidup a.k.a sue-in diri. Terlintas untuk melakukan kabur secara spontan, sama seperti spontanitas saat aku melarikan diri ke suatu tempat beberapa waktu lalu, tanpa persiapan dan tiba-tiba menghilang dari rutinitas yang menjemukan.
Aku hanya ingin tersenyum kembali, dengan siapa atau tanpa siapa. Yang aku inginkan adalah menjadi bahagia, tanpa memikirkan bagaimana cara membahagiakan orang lain terlebih dahulu. Aku sudah lupa resep racikan membahagiakan diri sendiri. Belum terlambat.
Ada yang mau kabur bareng? yuuuuu coy..
Terkadang saya ingin keluar dari aktivitas ini, tidak ingin didikte dengan persoalan yang sama, kabur dari kebiasaan yang cukup memualkan, dan melepas apa yang sudah dimiliki. Namun, terlalu sayang untuk merelakan apa yang sudah dimiliki, takut dengan masa depan yang tidak bisa diprediksi, enggan meminta petuah mama lauren karena gengsi *lagian juga dia udah meninggal*. Ya, saya pengecut yang merasa jenuh. Katakan saja begitu.
Kegiatan yang sering kulakukan beberapa hari ini adalah melihat kalender, menghapal di luar kepala tentang tanggal-tanggal mana saja yang diwarnai merah. Kemudian mulai merencanakan banyak hal beserta alternatifnya untuk dilalui pekan itu. Tapi taruhan, rencana itu tidak akan terwujud.
Ingin rasanya pergi dari perasaan sepi ini. Saya memiliki banyak hal tapi seakan-akan tidak tahu mau difungsikan untuk apa. Berharap untuk satu hal yang itu-itu saja, yang tidak mungkin, yang seharusnya sudah kubuang. Menjadikan manusia yang tidak tahu bagaimana caranya mensyukuri nikmat, kerjaannya malah me-sukurin hidup a.k.a sue-in diri. Terlintas untuk melakukan kabur secara spontan, sama seperti spontanitas saat aku melarikan diri ke suatu tempat beberapa waktu lalu, tanpa persiapan dan tiba-tiba menghilang dari rutinitas yang menjemukan.
Aku hanya ingin tersenyum kembali, dengan siapa atau tanpa siapa. Yang aku inginkan adalah menjadi bahagia, tanpa memikirkan bagaimana cara membahagiakan orang lain terlebih dahulu. Aku sudah lupa resep racikan membahagiakan diri sendiri. Belum terlambat.
Ada yang mau kabur bareng? yuuuuu coy..
kami menyerah..
Tak bersapa menyaksikan tubuh gosong
Tak mengana tak temui raga terombang ambing
Remuk se remuk-remuknya
Yg tua digotong digendong
Yg balita habis nafas didekapan ibunya..
Tangisan banjiri tanah air mataku..
Semua menduka semua waspada..
menegur kami yg sengaja lupa..
Bersyukur sesempatnya saja
Kami bersimpuh mengadah ini jiwa tak punya apa-apa..
Tuhanku yang Maha Pemurah..
Kami menyerah!!
Tak mengana tak temui raga terombang ambing
Remuk se remuk-remuknya
Yg tua digotong digendong
Yg balita habis nafas didekapan ibunya..
Tangisan banjiri tanah air mataku..
Semua menduka semua waspada..
menegur kami yg sengaja lupa..
Bersyukur sesempatnya saja
Kami bersimpuh mengadah ini jiwa tak punya apa-apa..
Tuhanku yang Maha Pemurah..
Kami menyerah!!
damn!
Kondisi gw skrng emng lg butut bngt..
Ayo dong, Wina!
Ayo dong, Wina!
Dunia Kita, Kawan
aku menulis ini, karena aku berada disini,
didalam dunia yg kalian juga selami,
pahamilah sejauh ini, aku merasa kalian yg terbaik dari yg terbaik
aku tau, dan paham
yg kita lakukan sebuah salah besar
tapi taukah kamu kawan,
justru kesalahan itu yg membuat kita berpijak di bumi yg sama
yg membuat kita mendiami jurang yg sama
ini bukan sebuah AIB untuk di akui
ini bukan sebuah cacat moral yg harus dihindarkan
karena ini adalah tempat dimana kita semua menapakkan kaki,
dalam tawa yg tiada ujung..
taukah kamu kawan, saat matahari tidak berpijar sebagaimana mestinya,
saat dunia seolah berputar ke arah yg salah,
karena kita tidak sepaham, dengan mereka yg lain..
dewasa ini,,
aku bersumpah telah mengenal kalian
lebih dalam dan tenang dalam ”dunia kita”
aku bersandar dan berlindung pada kalian..
saat panas bumi menyerang kulitku, saat hujan lebat
membasahi jiwa dan rongga yg kosong,
tidak masalah berapapun uang dan waktu yg kita habiskan
kalian akan selalu membawanya bersama dengan tawa kita
saat orang diatas sana, yg jauh sekali lebih baik dari kita
menginjak dan memeras semua ”PELUH” dan keringat kita
saat semua orang yg kita cintai berada sangat ”jauh” untuk kita sentuh..
entah itu ayah atau ibu
entah itu paman atau bibi
entah itu kakek atau nenek kalian
saat orang yg ”mengisi relung hati” kita,
justru menyakiti dan membuat sebuah jarak tak terbatas..
mudah saja,
yg kita lakukan hanya perlu berkumpul,
mengenang ”masa lalu” yg lebih indah untuk di tertawakan
mengenang hal-hal sulit untuk kita jadikan pelajaran..
senyum, tawa dan tangis yg kita bagi bersama..
saat DUNIA TIDAK BERPIHAK PADA KITA,
KITA HANYA PERLU BERSAMA UNTUK MERINGANKAN SEGALANYA..
meskipun kadang tawa itu harus berakhir disaat kita kembali pada
kenyataan pahit hidup masing-masing..
aku tau, kita tidak bisa bahagia selamanya,
lalu apa salahnya terluka sesekali dan kemudian kita bisa mencoba BAHAGIA lagi..
aku tau, kita tidak mampu untuk terus berjalan dan berlari..
maka sejenak duduklah untuk beristirahat,
maka aku dan yg lain akan menunggumu..
kita bisa bersama dan melupakan betapa ”menjengkelkannya dunia”
saat kita ”membebaskan diri pada masalah” dan
maafkanlah dirimu sendiri atas kesalahan yg kamu buat sendiri,
kita masih berpijak ditanah yg sama..
kecuali, kamu mau pergi dan menghilang..
aku dan mereka tidak bisa melarang..
tapi aku dan mereka bisa menunggu..
menunggu kamu dan yg lain, untuk ’berbagi’ bersama lagi..
dedicated : buat temen baik gue semuanya, plis jngan anggep semua yg kita lakukan salah, semua hal buruk tidak selalu berakhir buruk.. kita ga bisa meminta dunia untuk terus berpihak pada kita, kan?? Terjatuhlah, dan aku akan membantumu bangkit sampai bisa berjalan lagi....
Subscribe to:
Posts (Atom)



