Tuhan, saya percaya bahwa Engkau hnya ada satu, namun Kau ciptakan manusia yg berbeda. Dan pertanyaan saya jg hanya satu, "Manakah yg tercipta lebih dahulu : emosi? Akal? Atau hati."
maaf Tuhan, jika saya bodoh krna mngingat apa yg prnah dilakukan salah satu teman sengaja melukai diri. Mencari cara bagaimana cara yg tepat untk menghukum diri sendiri. Menggunakan emosi demi sebuah pembuktian.
Enggan pulang, krna saya tdk yakin dimanakah sebuah kenyamanan. Berputar dan terus merasakan penatnya kota, kota yg sudah trlalu becek untk airmata dan keringat.
Egois msh meraja. Sederet pertanyaan timbul. Apakah, apakah dan kenapa. Kali ini saya menggunakan akal, untk melihat dr berbagai sudut pandang. Lantas muncul sebuah kesimpulan sempit yg berujung pd pernyataan saya tdk patut dinilai baik.
Keluh dan terus mengeluh sehingga lupa bahwa kuping manusia punya gendang telinga yg mungkin sdh terlalu pekik sehingga meledak. Entah saluran apa yg menyambungkannya kerongga mulut sehingga terlontar kata dngan daya hancur lebih dahsyat untk penerimanya.
Bagi beberapa diantara mereka, mungkin saya tdk sepenting itu, tdk satu dimensi, terlalu sensitif, terlalu menye-menye, tapi inilah kelemahan saya. Tolong dibantu. Krna bagi saya, ada manusia2 laen yg sebegitu pentingnya yg bs salah tafsir krna satu, dua, tiga kesalahan.
Terlalu kolot, tapi saya menganggap integritas itu penting. Respek serta kepercayaan dr mereka yg saya anggap penting itu adlh segala2nya. Dan sayangnya tdk ada asuransi yg melindungi harta yg sdh hilang tersebut..
Karena panas sehari, rusak hujan satu tahun..
Tdk ada tuntutan ingn dimengerti bagaimana cara kita berpikir dan menyimpulkan.
Sedalam apapun keinginan berempati, kita tdk bs mencapai dasarnya.
Terhenti pd sebuah waralaba, kopi yg tdk pernah saya sukai ternyata adalah yg saya butuhkan. Saya butuh terjaga.



